Harga emas dunia (XAU/USD) per 11 Juli 2025 menunjukkan penguatan selama tiga hari berturut-turut, ditutup pada level $3,358.20 per troy ounce untuk kontrak berjangka Comex. Kenaikan ini sebagian besar dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Presiden Donald Trump baru-baru ini mengumumkan tarif besar-besaran sebesar 35% terhadap impor dari Kanada dan 50% terhadap Brasil, serta tarif tambahan terhadap produk tembaga, semikonduktor, dan farmasi. Kebijakan tarif ini menghidupkan kembali kekhawatiran pasar terhadap konflik dagang global dan meningkatkan minat investor terhadap aset lindung nilai seperti emas.
Situasi geopolitik global turut memperkuat sentimen beli terhadap emas. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di Laut Merah, kembali meningkat setelah kelompok Houthi dilaporkan menyerang dua kapal dagang. Ancaman terhadap jalur perdagangan global dan keamanan pasokan energi menjadi pemicu kekhawatiran pasar yang berdampak pada penguatan harga emas. Peristiwa-peristiwa ini memperkuat narasi bahwa kondisi global masih belum stabil, sehingga meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven yang historisnya tangguh dalam kondisi ketidakpastian.
Dari sisi kebijakan moneter, Presiden Trump mendorong The Federal Reserve untuk memangkas suku bunga sebesar 300 basis poin, menimbulkan spekulasi bahwa tekanan politik terhadap bank sentral akan meningkat menjelang tahun pemilu. Meskipun data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kekuatan, seperti turunnya klaim pengangguran selama empat minggu berturut-turut dan laporan tenaga kerja yang solid, pasar tetap memperkirakan kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga The Fed pada tahun ini. Ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar mendorong emas karena menurunnya daya tarik dolar dan imbal hasil obligasi riil.
Namun demikian, terdapat faktor penahan kenaikan harga emas. Indeks dolar AS (DXY) naik ke 97.74, menunjukkan penguatan dolar yang berpotensi menekan harga emas karena membuatnya lebih mahal bagi investor luar negeri. Selain itu, imbal hasil obligasi AS juga naik; yield obligasi tenor 10 tahun mencapai 4.363%, sementara tenor 2 tahun berada di 3.893%. Kenaikan yield mencerminkan ekspektasi bahwa tekanan inflasi tetap tinggi dan potensi pelonggaran kebijakan moneter mungkin lebih terbatas dari yang diharapkan.
Berdasarkan pendekatan probabilistik terhadap arah harga emas dalam jangka pendek, terdapat peluang sebesar 50% bahwa harga akan melanjutkan kenaikan menuju area resistance di sekitar $3,374. Probabilitas harga bergerak sideways dalam rentang $3,311 hingga $3,357 diperkirakan sebesar 35%, mencerminkan fase konsolidasi teknikal setelah rally yang cukup tajam sejak pertengahan Juni. Sementara itu, kemungkinan harga menembus ke bawah $3,300 cukup kecil, hanya sekitar 15%, kecuali terjadi lonjakan signifikan dalam penguatan dolar dan imbal hasil obligasi.
Secara teknikal, struktur pasar emas masih mempertahankan pola konsolidasi sehat selama 12 minggu terakhir dengan support kuat di area $3,300. Selama harga mampu bertahan di atas support tersebut, bias jangka pendek tetap condong ke arah bullish. Zona resistance jangka pendek berada di $3,374, dan breakout di atas level ini dapat membuka peluang menuju rekor tertinggi baru. Namun, tekanan dari pasar ekuitas dan kripto yang semakin atraktif tetap menjadi faktor kompetitif terhadap daya tarik emas.
Secara keseluruhan, kondisi fundamental XAU/USD hingga 11 Juli 2025 didominasi oleh faktor-faktor yang mendukung penguatan harga emas. Ketidakpastian kebijakan tarif AS, ketegangan geopolitik, dan spekulasi kebijakan moneter dovish memperkuat permintaan terhadap aset safe haven. Meskipun dolar dan obligasi memberi tekanan teknis jangka pendek, arah umum pasar tetap condong naik, dengan kemungkinan penguatan lanjutan apabila tidak ada kejutan negatif dari data ekonomi atau perubahan sikap hawkish mendadak dari The Fed.

0 Komentar